LintasKalbar.com – Sistem aquaponik semakin banyak dilirik sebagai solusi budidaya ikan nila yang efisien dan ramah lingkungan. Selain mampu menghemat penggunaan air, metode ini juga memungkinkan pembudidaya memanen ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling terintegrasi. Salah satu konsep aquaponik yang menarik perhatian dikembangkan oleh Pak Roni melalui Kebun Nila Organik di Sragen.
Berbeda dengan sistem budidaya konvensional, Pak Roni menerapkan konsep yang diberi nama K-R-E-A-T-I-F. Konsep ini dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat, baik dalam skala rumah tangga maupun usaha komersial. Menurutnya, sistem aquaponik tidak harus dibangun dengan biaya besar, melainkan dapat disesuaikan dengan kondisi dan sumber daya yang dimiliki.
Salah satu prinsip yang diterapkan adalah memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai media penyaring air atau filter mekanis. Berbagai material sederhana seperti serat kelapa, jaring bekas nelayan, hingga bahan lain yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan dimanfaatkan untuk menjaga kualitas air tetap baik. Selain lebih hemat biaya, cara tersebut juga dinilai lebih mudah diterapkan oleh para pembudidaya pemula.
Tak hanya itu, media tanam yang digunakan dalam sistem aquaponik juga dibuat bervariasi. Mulai dari pipa paralon, talang air, kerikil, hingga hidroton dimanfaatkan sebagai tempat tumbuh tanaman yang memperoleh nutrisi dari limbah budidaya ikan. Dengan sistem tersebut, sisa pakan dan kotoran ikan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber nutrisi tanaman sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien.
Menurut Pak Roni, tidak ada satu desain aquaponik yang cocok diterapkan di semua tempat. Setiap daerah memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda sehingga sistem budidaya harus mampu beradaptasi. Fleksibilitas menjadi salah satu kunci agar pembudidaya dapat mengembangkan usaha sesuai luas lahan, kondisi air, maupun kemampuan modal yang dimiliki.
Konsep budidaya tersebut disampaikan oleh Pak Roni, pemilik Kebun Nila Organik di Sragen, yang mengembangkan sistem aquaponik terpadu sebagai sarana produksi sekaligus edukasi. Penjelasan tersebut dilansir dari kanal YouTube CapCapung pada Kamis, 16 Juli 2026, yang mengulas berbagai inovasi di bidang pertanian, peternakan, budidaya, dan kewirausahaan.
