LintasKalbar.com – Kota Maja di Kabupaten Lebak, Banten, semakin dikenal sebagai salah satu kawasan hunian dengan harga rumah yang masih relatif terjangkau di sekitar wilayah Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini mulai dilirik masyarakat, terutama kalangan muda dan keluarga baru yang ingin memiliki rumah pertama tanpa harus membeli hunian dengan harga tinggi di pusat kota.
Dilansir dari kanal YouTube Faris Gamal, pengembangan Kota Maja telah direncanakan sejak dekade 1990-an sebagai bagian dari upaya memperluas kawasan permukiman penyangga Jakarta. Namun, proyek tersebut sempat terhenti akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998.
Pengembangan kawasan kembali berjalan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo setelah Kota Maja masuk dalam kawasan prioritas pembangunan. Hingga kini, pembangunan terus berlanjut melalui pengembangan kawasan permukiman, fasilitas umum, serta peningkatan konektivitas yang diharapkan mampu mendukung pertumbuhan kawasan di masa depan.
Salah satu faktor yang mendorong minat masyarakat terhadap Kota Maja adalah harga rumah yang masih kompetitif. Berdasarkan ulasan tersebut, hunian di kawasan ini dipasarkan mulai kisaran Rp100 jutaan hingga sekitar Rp600 jutaan, tergantung tipe bangunan, luas lahan, dan lokasi perumahan.
Selain harga yang lebih terjangkau dibandingkan kawasan penyangga Jakarta lainnya, Kota Maja juga menawarkan lingkungan yang relatif tenang dengan kualitas udara yang masih baik. Kondisi tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menginginkan suasana hunian yang lebih nyaman dan jauh dari kepadatan perkotaan.
Keberadaan layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line juga menjadi salah satu penunjang utama perkembangan kawasan. Akses transportasi massal ini memudahkan mobilitas warga menuju sejumlah wilayah di Jabodetabek sehingga meningkatkan daya tarik Kota Maja sebagai kawasan permukiman baru.
Meski demikian, perkembangan Kota Maja masih menghadapi sejumlah tantangan. Jarak menuju pusat Jakarta yang mencapai sekitar 60 hingga 70 kilometer membuat waktu tempuh perjalanan masih menjadi pertimbangan bagi masyarakat yang bekerja di kawasan pusat bisnis ibu kota. Selain itu, sejumlah infrastruktur pendukung masih terus dikembangkan untuk mengimbangi pertumbuhan kawasan.
Dalam ulasan tersebut juga disebutkan bahwa tingkat hunian di beberapa kawasan perumahan belum sepenuhnya optimal. Sebagian unit diketahui masih dimiliki investor sehingga belum seluruhnya ditempati oleh penghuni tetap.
Jika dibandingkan dengan Rangkasbitung, perkembangan Kota Maja dinilai masih berada pada tahap pertumbuhan. Rangkasbitung telah lebih dahulu berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan aktivitas ekonomi Kabupaten Lebak, sedangkan Kota Maja baru mengalami percepatan pembangunan dalam sekitar satu dekade terakhir.
Melihat tren pembangunan yang terus berlangsung, Kota Maja dinilai memiliki prospek yang cukup menjanjikan sebagai kawasan hunian masa depan. Dukungan infrastruktur, akses transportasi berbasis KRL, serta harga rumah yang masih kompetitif menjadi modal penting bagi kawasan ini untuk berkembang sebagai salah satu kota satelit penyangga Jakarta.
Meski demikian, calon pembeli tetap disarankan mempertimbangkan kebutuhan mobilitas, lokasi tempat bekerja, serta kesiapan fasilitas pendukung sebelum memutuskan membeli hunian di kawasan tersebut. Bagi masyarakat yang bekerja di wilayah Tangerang atau memiliki sistem kerja fleksibel seperti remote working, Kota Maja dinilai dapat menjadi salah satu pilihan hunian yang layak dipertimbangkan
