Peneliti Untan Ungkap Peran Besar Keluarga, Anak Lebih Mudah Menghargai Perbedaan

Keluarga menjadi lingkungan pertama yang berperan besar dalam membentuk sikap toleransi sejak usia dini. Sumber: Freepik.com
LintasKalbar.com – Mengajarkan anak menghargai perbedaan ternyata tidak cukup dilakukan di sekolah. Keluarga justru menjadi lingkungan pertama yang berperan besar dalam membentuk sikap toleransi sejak usia dini. Temuan tersebut terungkap dalam hasil penelitian yang dipimpin dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan), M. Zainul Hafizi, berdasarkan rilis yang diterima redaksi LintasKalbar.com pada Senin 29 Desember 2025.
Penelitian itu menunjukkan bahwa suasana keluarga yang hangat, penuh kepercayaan, dan terbuka terhadap dialog memiliki pengaruh besar terhadap cara anak memandang keberagaman. Anak yang terbiasa tumbuh dalam lingkungan seperti itu cenderung lebih mudah menghormati orang lain meskipun memiliki latar belakang yang berbeda.
Menurut M. Zainul Hafizi, keluarga merupakan tempat pertama anak belajar memahami nilai-nilai kehidupan sebelum mengenalnya di sekolah maupun lingkungan sosial. Cara orang tua berkomunikasi, menyelesaikan perbedaan pendapat, hingga memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bekal penting bagi anak untuk membangun sikap saling menghargai.
Temuan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Kota Pontianak yang dikenal sebagai daerah dengan masyarakat multikultural. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga penanaman nilai toleransi sejak dalam keluarga menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga keharmonisan di tengah masyarakat.
Meski demikian, peneliti Untan tersebut menegaskan bahwa pembentukan karakter toleransi tidak dapat dibebankan kepada keluarga semata. Sekolah, lingkungan pergaulan, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat nilai-nilai tersebut melalui proses pendidikan, interaksi sosial, dan berbagai aktivitas yang mendorong sikap saling menghormati.
Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi yang lebih erat antara orang tua, sekolah, dan berbagai pihak terkait dalam membangun pendidikan karakter. Pembiasaan untuk menghargai perbedaan perlu dilakukan secara konsisten agar toleransi tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi benar-benar tercermin dalam perilaku anak di kehidupan sehari-hari.
Melalui hasil penelitian tersebut, M. Zainul Hafizi berharap temuan yang diperoleh dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, maupun para orang tua dalam memperkuat pendidikan karakter. Dengan dukungan semua pihak, generasi muda diharapkan mampu tumbuh sebagai pribadi yang menghargai keberagaman, menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.***