Keluhan Masyarakat Kepada Perusahaan Sawit Anggota DPRD Provinsi Kalbar Angkat Bicara

0

Kalbar,LK – Masyarakat petani sawit didesa setungkup,Kec.Ketungau hilir,Kab.Sintang mengeluhkan keterlambatan pembayaran dari perusahaan sawit PT.Duta Rendra Mulya (DRM), Anggota DPRD Provinsi Kalbar dari Fraksi Nasdem,Terry Ibrahim,S,Sos.MM akhirnya angkat bicara.

Perusahaan sawit PT.DRM yang beroperasi di wilayah Kecamatan Ketungau hilir Kabupaten Sintang selain memiliki hak guna pengelolaan lahan perkebunan inti dan juga plasma yang tentunya dengan model sistem Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) dan di sistem ini ada pola bagi lahan 80% kebun inti dan 20% kebun plasma ini prosentase yang disepakati antara perusahaan dengan masyarakat dihitung dari luas lahan yang digarap oleh perusahaan demikian menurut penjelasan Terry Ibrahim media ini pada 07-07-2020.

Kemudian dari jumlah masyarakat yang didesa setungkup dan berhak mendapatkan pembagian lahan dan sekaligus menjadi anggota KUD Bukit cundung kurang lebih sebanyak 190 an orang dengan masing-masing mendapatkan satu kapling kebun sawit dengan luas 2 hektar tersebut perbulan nya mendapatkan hasil dari kebun sawit yang dimiliki nya sesuai perjanjian antara masyarakat dan perusahaan sebesar 70/30 setiap bulannya ujar Terry Ibrahim.

Selama ini masyarakat tidak berdaya dengan keterlambatan pembayaran dari sisa pembayaran kredit pembangunan kebun sawit di perusahaan sawit tersebut, untuk itu maka selaku Anggota DPRD Provinsi Kalbar Terry Ibrahim menghimbau kepada fihak Perusahaan untuk memperhatikan kepentingan masyarakat karena berkaitan dengan hajat hidup masyarakat terutama masalah pembayaran setiap bulannya jangan sampai terlambat lagi.

Kemudian Terry Ibrahim juga menambahkan keluhan masyarakat desa setungkup khusus nya dan masyarakat ketungau hilir pada umumnya,” yaitu masalah jalan dan juga masalah fasilitas umum, seperti tempat ibadah dan lain-lain tolong perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut memperhatikannya agar terjalin hubungan yang harmonis antara perusahaan dan masyarakat”.

Pengurus KUD Bukit cundung juga mengungkapkan hal senada mengenai keterlambatan perusahaan dalam pembayaran ke petani plasma,selain itu juga ada beberapa catatan saat sebelum akad kredit,masalah lainnya seperti pemeliharaan jalan block, juga menjadi kendala bagi petani saat melangsir hasil panen nya dari dalam block ke luar kebun, karena memang masih menjadi tanggung jawab perusahaan yang mesti dipenuhi dalam hal ini jalan kebun plasma.

Dari masing-masing kebun sawit masyarakat keseluruhan nya perbulan rata-rata mendapatkan hasil kurang-lebih 80/90 ton karena belum terlalu maksimal perawatan kebun sawit tersebut sesuai perjanjian diawal antara perusahaan dengan masyarakat saat sebelum akad kredit diharapkan perusahaan memenuhi janji perawatan di beberapa block tutur pengurus KUD Bukit cundung.

“Selama ini mengenai hal- hal lainnya perusahaan sudah cukup baik, dan tentu nya kalau yang baik patut di apresiasi, diantaranya perusahaan juga sudah membantu bibit untuk kebun gereja dan kebun umum lainnya”,tetapi tentu saja wajar jika berkaitan dengan pembayaran petani sekaligus anggota KUD Bukit cundung mengeluhkan keterlambatan pembayaran karena masyarakat sangat bergantung dengan hasil kebun sawit tersebut kedepannya harus jangan terjadi lagi keterlambatan ini demikian ungkap pengurus KUD Bukit cundung.(Yan)

Tinggalkan Balasan

silahkan masukkan komentar anda
masukkan nama anda disini